Batik Malangan Dipakai Kampanye Tumbuh Kembang Anak

Batik Malangan Dipakai Kampanye Tumbuh Kembang Anak

INSTANEWS.CO.ID — Masalah tumbuh kembang anak dan stunting masih jadi tantangan besar di Indonesia. Metode penyuluhan kesehatan yang monoton bikin remaja cepat bosan. Di Kota Malang, 20 remaja Balearjosari dilatih membatik untuk menyisipkan pesan gizi dan pengasuhan anak ke dalam motif kain.

Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Malang menginisiasi program pengabdian masyarakat berbasis kearifan lokal. Tim yang diketuai Dr. Siti Asiyah, M.Kes. ini melibatkan 20 remaja lokal di Rumah Batik Poesaka Djagad, Perumahan Karanglo Indah, Kelurahan Balearjosari.

Program bertajuk "Pemberdayaan Remaja Balearjosari Melalui Inovasi Batik Malangan Sebagai Sarana Promosi Kesehatan Pada Tumbuh Kembang Anak" ini didanai skema SIMLITABKES. Tujuannya memutus rantai masalah tumbuh kembang anak lewat pendekatan seni budaya.

Mengapa Remaja Jadi Sasaran Utama?

Remaja disebut sebagai second window of opportunity dalam intervensi gizi dan kesehatan. Kelompok usia ini berperan sebagai calon orang tua sekaligus agent of change di lingkungannya.

Pesan kesehatan yang disampaikan lewat ceramah searah sering mengalami communication fatigue. Remaja butuh cara lain yang lebih dekat dengan dunia mereka.

Memadukan Parenting, Sosiologi, dan Seni Membatik

Kegiatan diawali dengan pengukuran pemahaman awal peserta. Pembekalan kemudian menggabungkan tiga perspektif sekaligus.

Silvia Trias Putri, SKM., memberi edukasi soal seni pengasuhan dan filosofi batik. Ia menjelaskan bagaimana nilai parenting bisa diintegrasikan dengan simbol ketelatenan dalam motif batik.

Dr. Siti Asiyah, M.Kes. menyoroti sisi sosiologi kesehatan dan kearifan lokal. Batik diposisikan sebagai media komunikasi visual yang punya daya emosional kuat.

Praktik membatik dan desain motif dipandu Henry Sarjono, SE., bersama praktisi Rumah Batik Poesaka Djagad. Peserta dibekali keterampilan merancang motif lokal dan teknik membatik menggunakan canting.

Pesan Gizi dan Tumbuh Kembang di Setiap Ornamen

Antusiasme remaja Balearjosari terlihat sejak sesi praktik hingga pameran karya. Mereka tidak hanya belajar teknik membatik, tapi juga menyisipkan pesan promosi kesehatan ke dalam ornamen Batik Malangan.

Karya yang dihasilkan mencerminkan pemahaman tentang fase tumbuh kembang anak, keterlibatan keluarga, dan kesadaran gizi. Semua dikemas melalui estetika budaya lokal.

Hasil post-test menunjukkan peningkatan pemahaman mengenai indikator tumbuh kembang anak. Apresiasi terhadap proses pembuatan Batik Malangan juga ikut naik.

Dukungan Lintas Sektor dan Rencana Berkelanjutan

Program ini mendapat dukungan dari Kelurahan Balearjosari, Puskesmas Polowijen, dan Rumah Batik Poesaka Djagad. Pameran karya batik remaja juga mendapat perhatian dari Anggota Komisi D DPRD Kota Malang.

Tiga karya batik terbaik dipilih sebagai bentuk apresiasi. Lurah Balearjosari, M. Choirul, SH, M.Hum., turut memberikan penghargaan kepada para peserta.

Sebagai tindak lanjut, Kelurahan Balearjosari memfasilitasi pembinaan berkelanjutan bagi remaja yang berminat membatik. Langkah ini memastikan program tidak berhenti di pelatihan saja.

Remaja Balearjosari kini berperan sebagai agen promosi kesehatan di wilayahnya. Mereka juga punya keterampilan ekonomi baru yang bisa terus dikembangkan.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index